Tampilkan postingan dengan label Agama Islam. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Agama Islam. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 10 Maret 2012

DUA PEGANGAN KEHIDUPAN

DUA PEGANGAN KEHIDUPAN – Akhirat itu urusan yg besar, malah terbesar dari urusan2 lain bila kita mau merenung. Banyaknya kelalaian soal akhirat karena itu memang ujiannya, dan jalan ke akhirat hakikatnya merupakan jenis ujian yang lebih penting dibanding ujian-ujian keduniaan yang pernah kita alami (Ujian SMP, Ujian Pegawain karir Dst). Makanya sungguh benar sabda Rosulullah SAW bahwa manusia cerdas ialah hamba Allah yang paling baik mempersiapkan bekal untuk diakhirat nanti..
Seorang hamba Allah kudu ngikutin surat tugasnya dengan benar, tugas dari Allah, dengan surat panduan Quran dan Sunnah. Manusia diberi tugas sbg khalifah, dengan panduan menjalaninya, itulah jalan yg lurus. Ibarat kita ini bertugas dinas oleh kantor, tentunya lengkap dengan panduan tugasnya, dimana kita gak bisa melenceng dari panduannya bila tak ingin terkena sangsi, bahkan beresiko terkena pemecatan dari status karyawan, dan soal akhirat jauh lebih besar dibanding contoh tsb.
Karena besar maka Allah SWT memerintahkan kita Iqro, bacalah..tentu saja membaca panduannya Quran dan Sunnah sebagai prioritas, mengkaji, menjadikannya referensi, selalu meninggikannya dalam perilaku.
Sebagaimana Nabi, Shahabat yang sering menangis mendengar Firman Allah, dan Umar Bin Khattab saat menjadi khalifah pemimpin Umat ia terdiam ditegur seorang wanita tua karena ia membacakan Ayat Allah, jadi beneran Allah dan Rosul-Nya dibesarin lebih dari apapun, yang beginilah tanda Allahuakbar, didalam shalatnya mantep dan membekas dalam keseharian.
Si Ibu juga gak takut Umar, padahal ia Khalifah setara sbg pemimpin dunia, dan Umar juga gak gengsi malah tertunduk saat ayat Allah dibacakan siibu. Jadi keduanya beneran sama2 membesarkan Allah SWT
Sayangnya kebanyakan kita lalai menyepelekan dari membaca dan tunduk dengan ayat-ayat Allah, hadist Nabinya, akibatnya betapa banyaknya kita yang gak faham halal dan haram, betapa banyak yang menjadikan agama Allah ini sesuatu yang diremehkan, enteng ninggalin shalat, enteng lepas jilbab, enteng melenceng dari petunjuk Allah, enteng gak dhuha, enteng nunda sedekah, enteng kerjasama dengan musuh Allah seperti yahudi, padahal kehidupan ini sendiri gak lepas dari aturan Allah SWT dalam panduannya.
14 Abad yang lalu Quran dan Sunnah masih relevan dan ngepas kepada semua bidang kehidupan manusia dari yang besar ampe yang kecil, terlalu banyaknya ajaran barat hingga kondisi menjadikan semuanya terbiasa gak make Quran, hingga gak jadi bernilai ibadah, akibat lama gak terdoktrin pentingnya berkehidupan, berdagang, berkeluarga, hingga berbangsa sesuai Sunnah cara Rosulullah SAW padahal Cinta Allah dan Rosulullah SAW itu beneran harus serius, karena mencintai artinya juga mengikuti jalan-Nya, dan semua dalam Islam ini menyentuh seluruh kehidupan, dan itulah bagian dari Agama Allah, dan ini petunjuk-Nya dan bagian Ibadah kepada-Nya selain ibadah ritual, mentaati apa yang diturunkan Allah, merupakan bukti dari ucapan, Laa Ilaaha ilallaah.
Bila Agama itu gak difungsikan sebagaimana mestinya, dimana kita takbir saat shalat, namun Allah maha besarnya hanya dibibir saja tetapi kenyataannya kita gak pake petunjuk Allah didalam kehidupan, maka jadilah kehidupan penuh nilai-nilai kejahiliahan, kehidupan jadi mirip sebagaimana ketika saat Rosulullah SAW belum diutus.
Rasulullah SAW bersabda, Telah aku tinggalkan untuk kalian, dua perkara yang kalian tidak akan sesat selama kalian berpegang teguh dengan keduanya; Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya. (HR. Malik 1395)
Allah dalam firman-Nya:
… tetapi setan (Iblis) menjadikan umat-umat itu memandang baik perbutan mereka (yang buruk), maka setan menjadi pemimpin mereka di hari itu dan bagi mereka adzab yang sangat pedih. (QS. An-Nahl 16:63)
Allah SWT Berfirman : Sesungguhnya APA SAJA yang mereka SERU, SELAIN dari Allah, itulah Al-Bathil kebatilan, dan sesungguhnya Allah, Dialah Yang Maha Tinggi lagi Maha Besar. (QS. Al-Hajj [22] : 62) (QS. Al-Baqarah [2] : 42)
Sedari sekarang mulai benerin diri kita, keluarga kita agar demen mengkaji Agama Allah terus menerus, dimana ngaji itu gak bakalan cukup dari satu, dua guru karena Islam ada spesialisasinya dari yang terpenting seperti Akidah, Tauhid, lalu menyusul Fiqih, belajar tajwid bacaan Qur’an, tafsir, beneran dah giatkan semuanya menuju jalannya Allah SWT, jangan lupa perhatiin gurunya, kesejahteraannya, karena sedekah juga diutamakan kepada penuntut ilmu, ustadz, majlis talim, dimana merekalah yang nerusin ilmu Islam itu sendiri, jangan sampe kita demen nonton konser, promoin acara2 keduniaan, nyebarin pesan2 kelalaian, padahal bumi ini milik Allah, kita kurang mengetahui pentingnya mendalami agama Islam, karena kebanyakan doyan berlama-lama dalam kelalaiannya, hingga mudah memisah-misahkan bagian agama Allah, dan yang parah, banyak yang beragama tapi disesuaikan dengan nalarnya saja alias gak pake dalil, yg ini beneran jangan dah. Naudzubillah Min Dzalik, Semoga Allah SWT memudahkan kita, dan Allah jadikan kita dan saudara seiman yang lain untuk memprioritaskan Petunjuk Allah SWT ini buat kebaikan kita didunia dan akhirat, Amin


Sumber : Ustadz Yusuf Mansur 

Rabu, 15 Februari 2012

Sejarah sunan kalijaga

Sejarah sunan kalijaga

Kaitkata: sunan kalijagaSunan Malik IbrahimSunan AmpelSunan GiriSunan Bonang, Dialah “wali” yang namanya paling banyak disebut masyarakat Jawa. Ia lahir sekitar tahun 1450 Masehi. Ayahnya adalah Arya Wilatikta, Adipati Tuban -keturunan dari tokoh pemberontak Majapahit, Ronggolawe. Masa itu, Arya Wilatikta diperkirakan telah menganut Islam
Nama kecil Sunan Kalijaga adalah Raden Said. Ia juga memiliki sejumlah nama panggilan seperti Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban atau Raden Abdurrahman.Terdapat beragam versi menyangkut asal-usul nama Kalijaga yang disandangnya.
Masyarakat Cirebon berpendapat bahwa nama itu berasal dari dusun Kalijaga di Cirebon. Sunan Kalijaga memang pernah tinggal di Cirebon dan bersahabat erat dengan Sunan Gunung Jati. Kalangan Jawa mengaitkannya dengan kesukaan wali ini untuk berendam (‘kungkum’) di sungai (kali) atau “jaga kali”. Namun ada yang menyebut istilah itu berasal dari bahasa Arab “qadli dzaqa” yang menunjuk statusnya sebagai “penghulu suci” kesultanan.
Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan mencapai lebih dari 100 tahun. Dengan demikian ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (berakhir 1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram dibawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang “tatal” (pecahan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
Dalam dakwah, ia punya pola yang sama dengan mentor sekaligus sahabat dekatnya, Sunan Bonang. Paham keagamaannya cenderung “sufistik berbasis salaf” -bukan sufi panteistik (pemujaan semata). Ia juga memilih kesenian dan kebudayaan sebagai sarana untuk berdakwah.
Ia sangat toleran pada budaya lokal. Ia berpendapat bahwa masyarakat akan menjauh jika diserang pendiriannya. Maka mereka harus didekati secara bertahap: mengikuti sambil mempengaruhi. Sunan Kalijaga berkeyakinan jika Islam sudah dipahami, dengan sendirinya kebiasaan lama hilang.
Maka ajaran Sunan Kalijaga terkesan sinkretis dalam mengenalkan Islam. Ia menggunakan seni ukir, wayang, gamelan, serta seni suara suluk sebagai sarana dakwah. Dialah pencipta Baju takwa, perayaan sekatenan, grebeg maulud, Layang Kalimasada, lakon wayang Petruk Jadi Raja. Lanskap pusat kota berupa Kraton, alun-alun dengan dua beringin serta masjid diyakini sebagai karya Sunan Kalijaga.
Metode dakwah tersebut sangat efektif. Sebagian besar adipati di Jawa memeluk Islam melalui Sunan Kalijaga. Di antaranya adalah Adipati Padanaran, Kartasura, Kebumen, Banyumas, serta Pajang (sekarang Kotagede – Yogya). Sunan Kalijaga dimakamkan di Kadilangu -selatan Demak.
nama-nama Walisongo :
1. Sunan Malik Ibrahim
2. Sunan Ampel
3. Sunan Giri
4. Sunan Bonang
5. Sunan Kali Jaga
6. Sunan Gunung Jati
7. Sunan Drajat
8. Sunan Kudus
9. Sunan Muria

Selasa, 14 Februari 2012

Sejarah Islam Di Indonesia

SEJARAH ISLAM DI INDONESIA

Pada tahun 30 Hijri atau 651 Masehi, hanya berselang sekitar 20 tahun dari wafatnya Rasulullah SAW, Khalifah Utsman ibn Affan RA mengirim delegasi ke Cina untuk memperkenalkan Daulah Islam yang belum lama berdiri. Dalam perjalanan yang memakan waktu empat tahun ini, para utusan Utsman ternyata sempat singgah di Kepulauan Nusantara. Beberapa tahun kemudian, tepatnya tahun 674 M, Dinasti Umayyah telah mendirikan pangkalan dagang di pantai barat Sumatera. Inilah perkenalan pertama penduduk Indonesia dengan Islam. Sejak itu para pelaut dan pedagang Muslim terus berdatangan, abad demi abad. Mereka membeli hasil bumi dari negeri nan hijau ini sambil berdakwah.

Lambat laun penduduk pribumi mulai memeluk Islam meskipun belum secara besar-besaran. Aceh, daerah paling barat dari Kepulauan Nusantara, adalah yang pertama sekali menerima agama Islam. Bahkan di Acehlah kerajaan Islam pertama di Indonesia berdiri, yakni Pasai. Berita dari Marcopolo menyebutkan bahwa pada saat persinggahannya di Pasai tahun 692 H / 1292 M, telah banyak orang Arab yang menyebarkan Islam. Begitu pula berita dari Ibnu Battuthah, pengembara Muslim dari Maghribi., yang ketika singgah di Aceh tahun 746 H / 1345 M menuliskan bahwa di Aceh telah tersebar mazhab Syafi’i. Adapun peninggalan tertua dari kaum Muslimin yang ditemukan di Indonesia terdapat di Gresik, Jawa Timur. Berupa komplek makam Islam, yang salah satu diantaranya adalah makam seorang Muslimah bernama Fathimah binti Maimun. Pada makamnya tertulis angka tahun 475 H / 1082 M, yaitu pada jaman Kerajaan Singasari. Diperkirakan makam-makam ini bukan dari penduduk asli, melainkan makam para pedagang Arab.
Sampai dengan abad ke-8 H / 14 M, belum ada pengislaman penduduk pribumi Nusantara secara besar-besaran. Baru pada abad ke-9 H / 14 M, penduduk pribumi memeluk Islam secara massal. Para pakar sejarah berpendapat bahwa masuk Islamnya penduduk Nusantara secara besar-besaran pada abad tersebut disebabkan saat itu kaum Muslimin sudah memiliki kekuatan politik yang berarti. Yaitu ditandai dengan berdirinya beberapa kerajaan bercorak Islam seperti Kerajaan Aceh Darussalam, Malaka, Demak, Cirebon, serta Ternate. Para penguasa kerajaan-kerajaan ini berdarah campuran, keturunan raja-raja pribumi pra Islam dan para pendatang Arab. Pesatnya Islamisasi pada abad ke-14 dan 15 M antara lain juga disebabkan oleh surutnya kekuatan dan pengaruh kerajaan-kerajaan Hindu / Budha di Nusantara seperti Majapahit, Sriwijaya dan Sunda. Thomas Arnold dalam The Preaching of Islam mengatakan bahwa kedatangan Islam bukanlah sebagai penakluk seperti halnya bangsa Portugis dan Spanyol. Islam datang ke Asia Tenggara dengan jalan damai, tidak dengan pedang, tidak dengan merebut kekuasaan politik. Islam masuk ke Nusantara dengan cara yang benar-benar menunjukkannya sebagai rahmatan lil’alamin.
Dengan masuk Islamnya penduduk pribumi Nusantara dan terbentuknya pemerintahan-pemerintahan Islam di berbagai daerah kepulauan ini, perdagangan dengan kaum Muslimin dari pusat dunia Islam menjadi semakin erat. Orang Arab yang bermigrasi ke Nusantara juga semakin banyak. Yang terbesar diantaranya adalah berasal dari Hadramaut, Yaman. Dalam Tarikh Hadramaut, migrasi ini bahkan dikatakan sebagai yang terbesar sepanjang sejarah Hadramaut. Namun setelah bangsa-bangsa Eropa Nasrani berdatangan dan dengan rakusnya menguasai daerah-demi daerah di Nusantara, hubungan dengan pusat dunia Islam seakan terputus. Terutama di abad ke 17 dan 18 Masehi. Penyebabnya, selain karena kaum Muslimin Nusantara disibukkan oleh perlawanan menentang penjajahan, juga karena berbagai peraturan yang diciptakan oleh kaum kolonialis. Setiap kali para penjajah – terutama Belanda – menundukkan kerajaan Islam di Nusantara, mereka pasti menyodorkan perjanjian yang isinya melarang kerajaan tersebut berhubungan dagang dengan dunia luar kecuali melalui mereka. Maka terputuslah hubungan ummat Islam Nusantara dengan ummat Islam dari bangsa-bangsa lain yang telah terjalin beratus-ratus tahun. Keinginan kaum kolonialis untuk menjauhkan ummat Islam Nusantara dengan akarnya, juga terlihat dari kebijakan mereka yang mempersulit pembauran antara orang Arab dengan pribumi.

Semenjak awal datangnya bangsa Eropa pada akhir abad ke-15 Masehi ke kepulauan subur makmur ini, memang sudah terlihat sifat rakus mereka untuk menguasai. Apalagi mereka mendapati kenyataan bahwa penduduk kepulauan ini telah memeluk Islam, agama seteru mereka, sehingga semangat Perang Salib pun selalu dibawa-bawa setiap kali mereka menundukkan suatu daerah. Dalam memerangi Islam mereka bekerja sama dengan kerajaan-kerajaan pribumi yang masih menganut Hindu / Budha. Satu contoh, untuk memutuskan jalur pelayaran kaum Muslimin, maka setelah menguasai Malaka pada tahun 1511, Portugis menjalin kerjasama dengan Kerajaan Sunda Pajajaran untuk membangun sebuah pangkalan di Sunda Kelapa. Namun maksud Portugis ini gagal total setelah pasukan gabungan Islam dari sepanjang pesisir utara Pulau Jawa bahu membahu menggempur mereka pada tahun 1527 M. Pertempuran besar yang bersejarah ini dipimpin oleh seorang putra Aceh berdarah Arab Gujarat, yaitu Fadhilah Khan Al-Pasai, yang lebih terkenal dengan gelarnya, Fathahillah. Sebelum menjadi orang penting di tiga kerajaan Islam Jawa, yakni Demak, Cirebon dan Banten, Fathahillah sempat berguru di Makkah. Bahkan ikut mempertahankan Makkah dari serbuan Turki Utsmani.

Kedatangan kaum kolonialis di satu sisi telah membangkitkan semangat jihad kaum muslimin Nusantara, namun di sisi lain membuat pendalaman akidah Islam tidak merata. Hanya kalangan pesantren (madrasah) saja yang mendalami keislaman, itupun biasanya terbatas pada mazhab Syafi’i. Sedangkan pada kaum Muslimin kebanyakan, terjadi percampuran akidah dengan tradisi pra Islam. Kalangan priyayi yang dekat dengan Belanda malah sudah terjangkiti gaya hidup Eropa. Kondisi seperti ini setidaknya masih terjadi hingga sekarang. Terlepas dari hal ini, ulama-ulama Nusantara adalah orang-orang yang gigih menentang penjajahan. Meskipun banyak diantara mereka yang berasal dari kalangan tarekat, namun justru kalangan tarekat inilah yang sering bangkit melawan penjajah. Dan meski pada akhirnya setiap perlawanan ini berhasil ditumpas dengan taktik licik, namun sejarah telah mencatat jutaan syuhada Nusantara yang gugur pada berbagai pertempuran melawan Belanda. Sejak perlawanan kerajaan-kerajaan Islam di abad 16 dan 17 seperti Malaka (Malaysia), Sulu (Filipina), Pasai, Banten, Sunda Kelapa, Makassar, Ternate, hingga perlawanan para ulama di abad 18 seperti Perang Cirebon (Bagus rangin), Perang Jawa (Diponegoro), Perang Padri (Imam Bonjol), dan Perang Aceh (Teuku Umar).

Sign up for PayPal and start accepting credit card payments instantly.